Mengenal Ericksonian Hypnotherapy


milton_erickson

Milton Hyland Erickson, MD (lahir 5 Desember 1901 di Aurum, Nevada, wafat 25 Maret 1980 di Phoenix, Arizona) adalah seorang psikiater Amerika Serikat yang mengkhususkan diri dalam hipnosis dan terapi keluarga.

Ia merupakan pendiri dari American Society for Clinical Hypnosis dan anggota American Psychiatric Association, American Psychological Association, dan American Psychopathological Association.

Pengalamannya dengan hypnotherapy selama puluhan tahun telah memungkinkannya menciptakan berbagai metode yang mampu meningkatkan efektifitas sesi terapi.

Milton Erickson selalu menyadari tujuan dari hal yang ia lakukan. Bahkan pada kenyataannya, orientasi tujuannya merupakan salah satu karakteristik terpenting dari hidup dan kerjanya. Erickson dengan metode hypnotherapy-nya dapat disejajarkan dengan Freud pada psychoanalysis-nya.

Erickson telah mempublikasikan sedikitnya 150 artikel dalam kurun waktu 50 tahun, dan dua buku terpentingnya – Time Distortion in Hypnosis yang ditulis tahun 1954 bersama L.S Cooper dan The Practical Applications of Medical and Dental Hypnosis yang ditulis tahun 1961 bersama S. Hershman, MD dan I. I. Sector, DDS. Melalui karya-karyanya dan rekaman videonya ia berusaha mewariskan pemahamannya pada generasi selanjutnya.

Salah satu gaya bahasa hypnosis yang sering digunakan oleh Erickson adalah “negative commands”. Jika seseorang berkata kepada anda, “jangan membayangkan gajah” maka anda harus terlebih dahulu membayangkan gajah untuk memahami maksud orang tersebut. Dan jika seorang hypnotist mengatakan kepada anda,”Saya tidak ingin anda relaks terlalu cepat” si pendengar dapat segera merasa relaks untuk memahami maksud si hypnotist. Memulai suatu pernyataan dengan negasi adalah satu cara untuk mengeliminir resistensi pendengar.

Pada banyak karyanya, Erickson telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, menerangkan mengenai karakteristik hypnosis dan hypnotherapy, induksi hypnotherapy, berbagai metode therapeutic change dan memvalidasi perubahan.

Pada berbagai karyanya ia juga menerangkan berbagai hal berkenaan dengan filosofinya dalam menjalani hidup dan memberikan terapi.

Banyak terapis, psikoanalisa dan lainnya, menemukan bahwa pendekatan Erickson kompatibel dengan berbagai pendekatan dan jauh dari miskonsepsi tentang hypnosis. Ia selalu menekankan bahwa hypnosis tidak mengubah individu ataupun membangkitkan kembali kehidupan sebelumnya, melainkan memungkinkan individu untuk lebih mempelajari dan mengekpresikan dirinya.

Therapeutic trance memungkinkan individu untuk mengesampingkan batasan pembelajarannya sehingga dapat lebih mengeksplorasi dan menggunakan berbagai potensinya.

Banyak terapis yang menggunakan metode Erickson merasakan hasil kerja yang luar biasa dengan kliennya. Mereka menyadari berbagai keterbatasan yang dimiliki Erickson, yang membuatnya selalu terpisah dari individu lain, membuatnya mampu menciptakan metode respon yang unik.

Erickson terlahir dengan buta warna, kesulitan membedakan nada, dyslexia, dan hambatan dengan rima. Dia menderita dua kali serangan poliomyelitis, berada di kursi roda selama sekian tahun sebagai efek dari kerusakan syaraf, yang diakibatkan oleh arthritis dan myositis. Kebanyakan individu mengalami kesulitan dalam mempelajari metode Erickson sehingga membutuhkan “jembatan” seperti yang dilakukan oleh Dr. Ernest Rossy atau Richard Bandler bersama John Grinder.

Erickson sangat menekankan pada pentingnya membuat disain metode kerja ketika berhadapan dengan masalah yang kompleks. Dengan demikian anda selalu memiliki jawaban dari permasalahan tersebut. Berbagai metode yang digunakan oleh Erickson seperti double binds, indirect posthypnotic suggestions, pertanyaan yang mengarah pada perubahan, compound suggestions dan masih banyak lagi.

Erickson juga seringkali mengemukakan tentang pendekatan utilisasi. Menerima dan menggunakan sikap, realita internal, dan resistensi, response negatif dan simptom yang diberikan oleh klien.

Itulah sebabnya Erickson, tidak pernah memiliki klien yang resisten. Erikson juga menggunakan humor, permainan kata-kata, metafora dan simbol ketika bekerja dengan klien.

Pada umumnya Erickson akan bekerja dengan klien pada light trance, atau yang dia sebut sebagai common trance bahkan pada beberapa issue tanpa trance sama sekali.

Erickson tidak menekankan pada kedalaman trance, walaupun pada beberapa kasus ia menggunakan trance yang cukup dalam, seperti fenomena dissociation, time distortion, amnesia, dan age-regression. Hal ini disebabkan karena orientasinya yang lebih pada hasil dibandingkan hanya pada sebatas fenomena hypnosis untuk membuat kagum klien atau individu lain.

Erikson menekankan pada nilai pentingnya bekerja dengan klien pada kondisi yang ia sebut unconscious. Ia sangat menghormati kebijaksanaan unconscious. Bahkan sering kali ia membatasi interferensi dari pikiran sadar klien untuk jangka waktu yang relatif lama.

Ia sering kali tidak terlalu membedakan antara induksi trance dan therapeutic technique. Menurutnya adalah suatu kesia-siaan dan menghabiskan waktu bagi terapis untuk menggunakan induksi yang berulang-ulang dibandingkan langsung memberikan pengalaman belajar pada klien untuk berubah.

Dalam setiap sesi, Erickson lebih mengedepankan pada arti pentingnya fungsi therapeutic dibandingkan sebatas menginduksi trance.

Menurutnya sugesti langsung memiliki banyak keterbatasan, walaupun ia juga tahu bahwa teknik hypnosis, menggunakan sugesti langsung dapat meningkatkan efektifitas modifikasi tingkah laku seperti desensitization dan cognitive retraining.

Dia berkeyakinan bahwa sugesti langsung tidak akan memunculkan reassociation, reorganisasi ide, pemahaman dan ingatan yang penting untuk menyelesaikan apa yang dihadapi klien.

Hasil yang efektif dari hypnotic psychotherapy diambil dari aktivitas pasiennya. Peran terapis hanya menstimulir klien pada suatu aktivitas walau sering kali klien tidak memahami apa arti aktivitas yang mereka lakukan.

Ia lebih banyak membimbing klien dan memberikan latihan dalam penilaian klinis untuk menentukan kuantitas kerja yang dibutuhkan guna mencapai hasil yang diinginkan.

Erikson lebih sedikit membutuhkan dan menghasilkan doktrin dibandingkan terapis kebanyakan. Sangat jelas bahwa penilaian klinis dihasilkan dari proses pembelajaran intensif mengenai dinamika, pathology dan kesehatan dan dari pengalaman bekerja bersama klien.

Penilaian klinisnya juga dipengaruhi oleh filosofi personalnya dalam hidup. Filosofi Erickson termanifestasikan dengan penekanannya pada konsep seperti pertumbuhan dan kesukacitaan.

Sebagai tambahan hidup tidak harus selalu dapat memberi jawaban pada anda hari ini. Anda harus menyukai proses menunggu, proses pertumbuhan dan perkembangan diri anda. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan menanam bunga dan tidak tahu seperti apa bunga itu ketika telah mekar.

Karya Erickson telah memberikan banyak pengaruh bagi bidang hypnotherapy ataupun terapi lainnya. Ketika anda mempelajari berbagai jenis terapi lain seperti family therapy (Virginia Satir) atau Gestalt therapy (Fritz Perlz), anda dapat pula merasakan pengaruh karya Erickson.

Efektifitas metode kerja Erickson dalam memberikan terapi menyebabkan banyak hypnoteharapis yang turut mengadopsi pendekatan terapinya.

Orang bisa menolak sugesti, perintah, instruksi, petuah, atau nasihat, tetapi orang tidak bisa menolak metafora. Dengan pandangan seperti itulah Milton H. Erickson memelopori pemanfaatan metafora sebagai salah satu perangkat terapi. Dan itu merupakan salah satu inovasi penting yang dibawa oleh Milton H. Erickson ke dunia psikoterapi, yang kemudian dikenal dengan Ericksonian Hypnotherapy.

 

http://www.youtube.com/watch?v=F5m5LtxNhRM

 

METAFORA :

Karena metafora menyampaikan sugesti secara tidak langsung, maka ia tidak memancing reaksi pikiran sadar. Metafora tidak mengundang pikiran sadar untuk campur tangan, tidak memancing penolakan sadar, tidak memancing respons kritis pikiran sadar. Dengan demikian setiap sugesti akan diterima dalam cara yang nyaman oleh subyek tanpa ia merasa terdikte untuk menjalankan sugesti apa pun yang disampaikan. Metafora adalah sugesti yang sangat licin. Ia tidak bisa dijangkau oleh pikiran sadar dan hanya bisa diterima oleh bawah sadar.

Metafora juga menjadi salah satu alat Milton Erickson untuk berkomunikasi dengan pasiennya di dua level kesadaran. Di level pikiran sadar, cerita adalah sesuatu yang menarik untuk didengar. Di level bawah sadar, cerita itu adalah sugesti agar orang memberi respons tertentu demi mendapatkan manfaat terapetik darinya.

 

Mengenal Metafora :

Metafora adalah sebuah fenomena kebahasaan yang berlaku dalam tataran semantik. Metafora terkait dengan relasi antara satu kata dengan kata lain dalam membentuk sebuah makna.

Metafora berarti menembus, maksudnya menembus makna linguistik. Metafora tergolong bahasa kiasan, seperti perbandingan, tetapi tidak mempergunakan kata pembanding.

Metafora menyatakan sesuatu hal yang sama atau senilai dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama.

Metafora dipandang sebagai bentuk bahasa yang khas, dan bisa juga aneh karena relasi kata dalam metafora melampaui batas relasi bahasa secara literal yang telah disepakati bersama dalam komunikasi keseharian.

Metafora ditandai dengan penggantian ciri relasi, asosiasi, konseptualisasi, dan analogi dalam penataan hubungannya.

Kata ‘metafora’ sendiri berasal dari kata Yunani: meta dan phor. Meta adalah prefiks yang biasa dipakai untuk menggambarkan perubahan, sedangkan kata phor berasal dari kata pherein yang berarti ‘membawa’. Dengan demikian, metafora bisa diartikan sebagai ‘membawa perubahan makna’.

Berbagai bahasa juga menggunakan metafora sebagai salah satu modus berbahasa, khususnya untuk menciptakan makna baru. Ia merupakan bagian penting dalam pengalaman berbahasa. Namun, hal yang biasa ini tak mudah dijelaskan oleh para ahli linguistik, sulit untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna.

 

Metafora dalam Pandangan Linguistik Kognitif :

Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Metafora juga menjadi bagian yang sangat penting dalam pengalaman berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara metaforis. Hampir di dalam semua teks ditemukan banyak metafora, misalnya dalam teks ekonomi ditemukan kata-kata seperti balance of trade, capital mobility, raw material, marginal utility, underground economy, international growth race.

George Lakoff, mengatakan bahwa metafora adalah bagian dari sistem kognisi kita sebagai manusia, ia adalah modus kita dalam berpikir dan bertindak. Manusia berpikir dengan melihat kemiripan satu pengalaman dengan yang lain.

Fenomena metafora dalam bahasa dengan demikian adalah salah satu cara berpikir manusia. Bahkan, metafora bisa memberikan sumbangan balik kepada pengalaman, dengan menggunakan bantuan bahasa untuk menjelaskan sebuah pengalaman yang sulit untuk dijelaskan tanpa menggunakan metafora.

 

“Milton Hyland Erickson, MD (lahir 5 Desember 1901 di Aurum, Nevada, wafat 25 Maret 1980 di Phoenix, Arizona) adalah seorang psikiater Amerika Serikat yang mengkhususkan diri dalam hipnosis dan terapi keluarga. Ia merupakan pendiri dari American Society for Clinical Hypnosis dan anggota American Psychiatric Association, American Psychological Association, dan American Psychopathological Association”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s